Minggu, 17 Juni 2012

Interaksi Sosial Masyarakat Desa

Pengertian Interaksi Sosial

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat terbagi atas bentuk kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama individu dengan individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan.
Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan.

Sedangkan Asimilasi merupakan suatu proses di mana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok
Bentuk interaksi yang berkaitan dengan proses disosiatif ini dapat terbagi atas bentuk persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan. Bentuk kontravensi merupakan bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Sedangkan pertentangan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.

Untuk tahapan proses-proses asosiatif dan disosiatif Mark L. Knapp menjelaskan tahapan interaksi sosial untuk mendekatkan dan untuk merenggangkan. Tahapan untuk mendekatkan meliputi tahapan memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating) dan mempertalikan (bonding). Sedangkan tahapan untuk merenggangkan meliputi membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating).

Pendekatan interaksi lainnya adalah pendekatan dramaturgi menurut Erving Goffman. Melalui pendekatan ini Erving Goffman menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Konsep-konsepnya dalam pendekatan ini mencakup tempat berlangsungnya interaksi sosial yang disebut dengan social establishment, tempat mempersiapkan interaksi sosial disebut dengan back region/backstage, tempat penyampaian ekspresi dalam interaksi sosial disebut front region, individu yang melihat interaksi tersebut disebut audience, penampilan dari pihak-pihak yang melakukan interaksi disebut dengan team of performers, dan orang yang tidak melihat interaksi tersebut disebut dengan outsider.

Contoh interaksi sosial masyarakat perdesaan dan permasalahannya :

Desa Merdeka – Klaten  : Warung angkringan dari bahasa Jawa ‘ Angkring ‘ yang berarti duduk bersantai, kini menjadi sebutan untuk sebuah gerobag dari kayu jati yang tidak di cat dan ada rodanya.menjual berbagai macam makanan dan minuman khas orang Jawa.
Di Klaten, Angkring  biasa terdapat di pinggir ruas jalan dan biasa dijadikan tempat ngobrol sambil makan.

Dulu warung angkringan banyak dijadikan tempat bagi klas menengah kebawah, seperti petani, buruh, tukang atau pekerja swasta, namun kin hal itu telah berubah.
Pengunjung angkringan biasa makan ”nasi kucing” atau minuman yang biasa tersedia di angkringan.
Di warung angkringan tersebut biasa pembelinya sudah berlangganan dan saling mengenal satu dengan yang lainnya dan bercerita tentang keseharian hidupnya.

Angkringan yang telah naik kelas,  kini mulai masuk wilayah acara yang bersifat tingkat kabupaten. Acara kabupaten sering menggunakan menu makanan dari warung angkringan beserta gerobak sebagai indetitas dan kearifan lokal sebagai orang Jawa juga di bawa pada tempat tersebut.
Warung angkringan sebagai tempat berkumpul-kumpul bagi siapa saja yang ingin menikmati hidangan sederhana khas Jawa dan murah.

Sekarang ini angkringan tidak hanya bertenda biru dan duduk di kursi panjang dan menghadap angkringan, karena peminat/pelanggannya semakin meluas maka membutuhkan tempat yang nyaman sehingga terkadang mengelar tikar. Dengan santai para penikmat angkringan tersebut bisa menjalin komunikasi kepada para pembeli atau penjualnya.

Obrolan di warung angkringan sanat beragam tergantung tema yang terbaru di media nasional atau media lokal kemudian mereka membahasnya dengan caranya sendiri, dengan argumen dan bahasa mereka sendiri.

Walau kadang tidak ada titik temu atau tidak fokus dalam pembahasannya. Namanya juga warung angkringan tempat untuk nyantai bukan untuk serius membahas sosial, politik atau ekonomi kecuali ketemu para akademisi.

Walau warung angkringan itu sederhana dan hanya modal relatif kecil bisa menghidupkan suasana pedesaan dengan berbagai lapisan masyarakat untuk menikmati hidangan dan cerita-cerita sehari-hari masyarakat daerah tersebut.

Hingga seperti daerah penulis warung angkringan bisa berkumpul dari berbagai tokoh pemerintah , tokoh masyarakat dan masyarakat awam bisa berkumpul bersama tanpa harus dengan bahasa formal atau sikap formal hingga bisa menemukan dan menindetifikasi permasalahan yang berada di masyarakat pedesaan tersebut.

Dari pemerintah bisa menyampaikan program-programnya dan dari masyarakat bisa menyampaikan permasalahnya dan keinginannya. Semoga warung angkringan bisa mewadahi ruang-ruang yang tersumbat karena faktor birokrasi dan adminitrasi antara pemerintah dan masyarakat.

sumber:
www,masayarakat-desa.com
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar